CARA MENENTUKAN ARAH KIBLAT

PENENTUAN ARAH KIBLAT

                                   Oleh: Zainul Musta'in, S.Ag

                 (Anggota Tim Sertifikasi Arah Kiblat Kab. Pemalang)

A.   PENDAHULUAN

 

Arah kiblat merupakan hal yang sangat urgen sekali didalam agama Islam karena ia merupakan arah sholat yang diwajibkan kepada Muslim sesudah rukun Islam yang pertama, yang berupa dua kalimat syahadat. Selain itu menghadap kiblat juga disunahkan dalam mengubur jenazah orang islam, ketika adzan, berdoa, berdzikir, membaca Al Qur’an, menyembelih binatang (kurban) dan sebagainya.

  Arah sholat yang ditentukan kepada Muslim diseluruh dunia berada di Ka’bah (Baitullah)  yang berada di Kota Mekah.

Para ulama ahli fikih sepakat bahwa menghadap kiblat dalam melaksanakan sholat hukumnya adalah wajib, karena merupakan salah satu syarat sahnya sholat sebagaimana yang terdapat dalam  Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 144:

144.  Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit[96], Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

 

   

149.  Dan dari mana saja kamu keluar (datang), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

 

  “ Baitullah ( Ka ' bah ) adalah k iblat bagi orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah k iblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram ( Makkah ) dan Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi, T imur dan B arat dari umatKu” ( Hadith Riwayat Al-Baihaqi )

 

Bagi orang yang berada di kota Mekah dan sekitarnya, persoalan tersebut bukanlah sebuah masalah, karena mereka lebih mudah dalam menentukan arah Kiblat. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah bagi orang yang jauh dari kota Mekah, hal itu merupakan suatu hal yang berat, karena mereka belum tentu bisa mengarah ke Ka’bah secara tepat. Bahkan para ulama berselisih pendapat tentang arah kiblat yang semestinya.

Disisi lain, perkembangan terbaru ilmu falak telah menemukan cara untuk menentukan arah kiblat yang lebih akurat. Sedangkan sebagian masyarakat masih banyak yang belum bisa menerima secara langsung upaya penentuan arah kiblat yang lebih akurat, karena masih berpegang teguh pada pemahaman arah kiblat yang lama.

 

B.   RUMUSAN MASALAH

 

Berdasarkan pemaparan diatas, maka kami merumuskan beberapa pokok masalah sebagai panduan pembahasan sebagai berikut:

1.       Apa saja dan bagaimana cara penentuan arah kiblat?

      2. Bagaimanakah langkah – langkah yang perlu ditempuh untuk meminimalisir resistensi masyarakat terhadap pembetulan arah kiblat di masjid – masjid yang sudah lama berdiri?

 

C.   PEMBAHASAN

 

PENENTUAN ARAH KIBLAT

 

 

Berdasarkan tinjauan astronomis ( falakiyah ) , terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat , yaitu :

  1. Penentuan Arah  Kiblat Menggunakan kompas dan kalkulator
  2. Penentuan Arah Kiblat Menggunakan Theodolit
  3.   Penentuan Arah Kiblat Menggunakan Bayang Matahari

 

Adapun peralatan yang dapat dipergunakan dalam membantu penentuan arah kiblat adalah sebagai berikut :

  1. Kompas (magnetic maupun digital)
  2. Theodolit
  3. Kalkulator Scientific
  4. Global Positioning System (GPS)
  5. Busur Derajat ( Rubu’ Al Mujayyab)

 

 

 

Adapun metode untuk penentuan arah kiblat ada 2 macam, yaitu :

 

1.Dengan menentukan Azimuth Kiblat

 

Azimuth Kiblat adalah arah atau garis yang menunjukkan kearah Kiblat yang ditarik dari UTSB – Ka’bah.

Dalam metode ini dibutuhkan beberapa data, yaitu :

  1. Lintang Tempat (LT)
  2. Bujur Tempat (BD)
  3. Lintang Ka’bah (LM)
  4. Bujur Ka’bah  (BM)

 

RUMUS :

 

Tan Q = Tan LM X Cos LT X Cosec SBMD – Sin LT  X Cotg SBMD

 

Untuk menerapkan hasil perhitungan diatas dalam penentuan arah Kiblat maka dilakukan langkah sebagai berikut:

  1. Mencari arah Utara yang sebenarnya (True North) dengan menggunakan Kompas atau tongkat istiwa’.
  2. Setelah mengetahui arah Utara Selatan yang akurat, kita dapat mengukur arah kiblat dengan bantuan busur derajat atau Rubu’ Al Mujayyab

 

2.Dengan Mengetahui Rashdul Kiblat

 

Rashdul Kiblat adalah ketentuan waktu dimana bayangan benda yang terkena sinar matahari menunjuk kearah kiblat. Sebagaimana dalam kalender menara kudus KH. Turaehan ditetapkan tanggal 27 / 28 Mei dan tanggal 15 / 16 Juli pada tiap –tiap tahun sebagai Yaumu Rasdil Qiblat.

Namun demikian pada hari – hari selain tanggal tersebut mestinya juga dapat ditentukan jam Rasdhul Qiblat dengan bantuan sinar matahari. Adapun langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut :

  1. Menentukan Bujur Matahari
  2. Menentukan Selisih Bujur Matahari (SBM)
  3. Menentukan deklinasi matahari

 

Adapun rumusnya sebagai berikut :

Rumus 1 :

Sin Deklinasi  = Sin SBM x Sin Deklinasi

 

Rumus 2 :

Cotg A = Sin LT x Cotg AQ

 

Rumus 3 :

Cos B = Tan Deklinasi x Cotg LT x Cos

 

Sesudah hasilnya didapatkan kemudian dikonversikan kewaktu daerah dengan rumus sebagai berikut :

 

Waktu Daerah = WH – PW + (BD – BT)

 

Sesudah hasil jam rasdul Qiblat diketemukan kita dapat menentukan arah kiblat dengan cara meletakkan tongkat atau benda apa saja secara tegak lurus ditempat yang datar. Bayangan dari benda tersebut itulah arah kiblat yang sebenarnya.

 

 

 

 

 

 

1.     PENENTUAN ARAH KIBLAT MENGGUNAKAN BAYANG MATAHARI

 

 

 

Istiwa adalah fenomena astronomis saat posisi matahari melintasi meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda masuknya waktu shalat Zuhur. Pada saat tertentu di sebuah daerah dapat terjadi peristiwa yang disebut Istiwa Utama atau 'Istiwa A'zam ' yaitu saat posisi matahari berada tepat di titik Zenith (tepat di atas kepala) suatu lokasi. Namun peristiwa ini hanya terjadi di daerah antara 23,5˚ Lintang Utara dan 23,5˚ Lintang Selatan.

Istiwa Utama yang terjadi di kota Makkah dimanfaatkan oleh kaum Muslimin di negara-negara sekitar Arab khususnya yang berbeda waktu tidak lebih dari 5 (lima) jam untuk menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik bayangan matahari. Istiwa A'zam di Makkah terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18 Waktu Makkah dan 16 Juli sekitar pukul 12.26 Waktu Makkah.

Fenomena Istiwa Utama terjadi akibat gerakan semu matahari yang disebut gerak tahunan matahari (musim) sebab selama bumi beredar mengelilingi matahari sumbu bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun terlihat di bumi matahari mengalami pergeseran 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Saat nilai azimuth matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa Utama yaitu melintasnya matahari melewati zenith.

  Teknik penentuan arah kiblat menggunakan Istiwa Utama sebenarnya sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah . Demikian halnya di Indonesia dan beberapa negara Islam yang lain juga banyak menggunakan teknik ini. Sebab teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebilah tongkat dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa Utama tersebut maka arah bayangan tongkat menunjukkan kiblat.

 

Karena di negara kita peristiwanya terjadi pada sore hari maka arah bayangan tongkat adalah ke Timur, sedangkan arah bayangan sebaliknya yaitu yang ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang benar. Cukup sederhana dan tidak memerlukan ketrampilan khusus serta perhitungan perhitungan rumus-rumus. Jika hari itu gagal karena matahari terhalang oleh mendung maka masih diberi roleransi penentuan dilakukan pada H+1 atau H+2.

Penentuan arah kiblat menggunakan teknik seperti ini memang hanya berlaku untuk daerah-daerah yang pada saat peristiwa Istiwa Utama dapat melihat secara langsung matahari dan untuk penentuan waktunya menggunakan konversi waktu terhadap Waktu Makkah. Sementara untuk daerah lain di mana saat itu matahari sudah terbenam misalnya wilayah Indonesia bagian Timur praktis tidak dapat menggunakan teknik ini. Sedangkan untuk sebagian wilayah Indonesia bagian Tengah barangkali masih dapat menggunakan teknik ini karena posisi matahari masih mungkin dapat terlihat.   

Berdasarkan perhitungan astronomis menggunakan program Simulator Planetarium Starrynight diperoleh posisi matahari secara presisi saat terjadinya Istiwa Utama di Makkah tahun 2007 ini. Pertama, tanggal 28 Mei 2007 pukul 09:18:37 GMT atau 12:18:37 Waktu Makkah atau 16:18:37 WIB kedua tanggal 16 Juli 2007 pukul 09.26 GMT atau 12.26 Waktu Mekkah (GMT+3) atau 16.26 WIB (GMT+7) dengan posisi matahari berada di azimuth 294° 42.792' dan ketinggian (altitude) 14° 37.9'.  

 

Teknik Penentuan Arah Kiblat menggunakan Istiwa Utama :

 

1.       Tentukan lokasi masjid/mushalla/langgar atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya.

2.       Sediakan tongkat lurus sepanjang 1 sampai 2 meter dan peralatan untuk memasangnya. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/televisi/internet.

3.       Cari lokasi di samping atau di halaman masjid yang mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut serta memiliki permukaan tanah yang datar dan pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul. Persiapan jangan terlalu mendekati waktu terjadinya istiwa utama agar tidak terburu-buru.

4.       Tunggu sampai saat istiwa utama terjadi amatilah bayangan matahari yang terjadi (toleransi +/- 2 menit)

5.       Di Indonesia peristiwa Istiwa Utama terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menuju ke Timur. Sedangakan bayangan yang menuju ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang tepat.

6.       Gunakan tali, tembok atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan lokasi ini ke dalam masjid / rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah bayangan.

7.       Tidak hanya tongkat yang dapat digunakan untuk melihat bayangan. Menara, sisi gedung, tiang listrik, tiang bendera atau benda-benda lain yang tegak. Atau dengan teknik lain misalnya bandul yang kita gantung menggunakan tali sepanjang beberapa meter maka bayangannya dapat kita gunakan untuk menentukan arah kiblat.

 

Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Dan juga melakukan penentuan arah kiblat tidak mutlak harus dilakukan pada tanggal tersebut bisa saja mundur atau maju 1-2 hari karena pergeserannya relatif sedikit yaitu sekitar 1/6 derajat setiap hari.

Mon, 12 Jul 2010 @09:57


2 Komentar
image

Mon, 12 Jul 2010 @19:27

hanif

sangat bermanfaat nih...

image

Sat, 24 Jul 2010 @23:34

taufik agna

mas, yang penting kata MUI " Musthofa Ya'kub " menghadap ke arah kiblat, tidak mesti tepat di kiblatnya.


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 9+1+2

Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Arsip

ppcindo

JUMLAH PENGUNJUNG

Website counter

HARGA EMAS

BUKU


Masukkan Code ini K1-81DB85-C
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

BISNIS PULSA
Pengunjung

Copyright © 2017 zainulmustain.com · All Rights Reserved